FEB UI Nomor Satu: Akar Keunggulan dan Ujian Aksesnya
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia lahir pada 18 September 1950, ketika republik ini baru berumur lima tahun. Ia memisahkan diri dari Fakultas Hukum dan menjadi lembaga pendidikan tinggi ekonomi pertama di Indonesia (1). Tujuh puluh enam tahun kemudian, posisinya di puncak sulit dibantah. QS World University Rankings by Subject 2026 menempatkan UI di peringkat 180 dunia untuk Economics and Econometrics, teratas di Indonesia. Dua bidang lain juga memuncaki daftar nasional: Business and Management Studies serta Accounting and Finance. Artikel ini mengurai dari mana keunggulan itu berasal, bagaimana ia diukur, dan bagian mana yang masih rapuh, terutama harga akses yang makin membelah.
Dari Salemba 1950: Fakultas yang Mendahului Banyak Kampus
FEUI terbentuk saat jurusan sosial ekonomi di Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat mendapat status fakultas penuh pada 18 September 1950 (1). Berbeda dari Kedokteran, Teknik, dan Hukum yang berakar pada sekolah-sekolah era kolonial, fakultas ini muncul setelah proklamasi untuk mencetak ahli perekonomian dan pengelola perusahaan bagi negara yang baru merdeka (1). Ia juga tercatat sebagai lembaga pendidikan tinggi ekonomi tertua di Indonesia, dan status itu punya konsekuensi praktis: tradisi akademik, arsip, dan jejaring yang dibangun puluhan tahun tidak bisa direplikasi kampus baru dalam sepuluh tahun (1). Nama Fakultas Ekonomi sampai hari ini masih melekat di lidah orang Jakarta, meski nomenklatur resminya berubah pada 19 Februari 2015 menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis melalui Surat Keputusan Rektor UI Nomor 0382/SK/R/UI/2015 (1).
LPEM dan Tradisi Riset Sejak 1953
Jika ada satu institusi yang paling menjelaskan reputasi riset FEB UI, ia bernama LPEM. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat berawal dari Pusat Penelitian Sosial dan Seminar Administrasi Niaga yang dibentuk Soemitro Djojohadikusumo ketika menjabat dekan pada 1952, untuk menopang riset para kandidat doktor (2). Pada November 1953, pusat itu berganti nama menjadi LPEM, lalu menyerap Seminar Administrasi Niaga pada 1956 (2). Dua direkturnya yang pertama menggambarkan bobot jejak ini: Soemitro pada 1953 sampai 1955, disusul Widjojo Nitisastro pada 1955 sampai 1957 (2). LPEM kini menyebut dirinya komunitas peneliti akademik terbesar di UI dengan pengalaman lebih dari 60 tahun dalam riset, konsultasi, dan pelatihan (2). Bagi fakultas, kehadiran lembaga riset sejak tahun-tahun pertama berarti pengajaran tidak berhenti pada teori; data dan kajian lapangan masuk ke ruang kelas. Yang penting dicatat, tradisi ini berjalan lebih dari tujuh dekade, jauh sebelum ada obsesi peringkat internasional. Praktisnya, sebagian mahasiswa magang di proyek-proyek LPEM sebelum lulus, dan kelas-kelas FEB sering memakai hasil riset lembaga itu sebagai studi kasus. Dosen yang mengajar di depan kelas adalah orang yang sama yang sedang mengerjakan kajian kebijakan pada paginya.
Tiga Bidang, Satu Posisi: Peringkat 2026
Dalam QS WUR by Subject 2026, angkanya tegas. UI berada di peringkat 180 dunia untuk Economics and Econometrics, 101-150 untuk Accounting and Finance, dan 201-250 untuk Business and Management Studies. Ketiganya nomor satu di Indonesia. Catatan pentingnya, dominasi ini tidak seragam di semua medan. Di Business and Management Studies, Binus University berada di rentang yang sama, 201-250, dan mengklaim posisi setara nomor satu nasional (8); Economics and Econometrics Binus jauh di bawah, 551-700, atau peringkat sembilan nasional (8). Saingan negeri terdekat datang dari UGM, yang menempatkan tiga bidangnya di 201-250, dengan Business and Management Studies posisi dua nasional serta Accounting and Finance dan Economics and Econometrics posisi tiga (7). Membaca ketiganya bersamaan, keunggulan FEB UI paling jelas di ekonomi dan akuntansi, sementara di manajemen persaingannya paling ketat. Perlu dipahami juga cara peringkat QS dibangun: ia menimbang reputasi akademik, reputasi di mata pemberi kerja, dan sitasi riset, sehingga posisi sebuah fakultas bergerak lambat. Butuh tahun demi tahun konsistensi untuk naik, dan waktu yang tidak lebih pendek untuk turun. Angka 2026 karena itu lebih tepat dibaca sebagai rekap perjalanan panjang daripada kejutan semalam. Bagi calon mahasiswa, implikasinya sederhana: peringkat berguna untuk memetakan lanskap, tetapi jarang berguna untuk memilih jurusan secara spesifik.
Dua Mahkota Akreditasi
Ukuran internasional lain adalah akreditasi. FEB UI mendapat pengesahan AACSB pada Oktober 2022 dengan 12 program studi dalam proses penilaian, terbanyak di Indonesia pada masa itu (4). Skalanya besar: lebih dari 13.000 sekolah bisnis di dunia, dan hanya kurang dari 6 persen yang lolos pengesahan AACSB (4). Pada Februari 2026, Magister Manajemen FEB UI kembali meraih akreditasi AMBA untuk lima tahun berikutnya, melanjutkan status yang dipegang sejak 2018 (5). Gabungan keduanya membuat FEB UI satu-satunya sekolah bisnis di Indonesia berstatus double crown, kombinasi yang dipegang sebagian kecil sekolah bisnis dunia; target berikutnya EQUIS untuk melengkapi triple crown (5). Bagi mahasiswa, akreditasi memudahkan pengakuan gelar dan kolaborasi lintas negara. Bagi fakultas, ia memaksa audit kurikulum dan tata kelola secara berkala, siap atau tidak siap.
Ratusan Dosen dan Jaringan yang Bekerja Diam-diam
Data kepegawaian Februari 2025 mencatat 258 dosen di FEB UI: 93 dosen PNS, 154 dosen tetap non-PNS, dan 11 pemegang NIDK (3). Kombinasi ini mencampur pengajar jalur birokrasi, akademisi murni, dan praktisi dengan kontrak khusus. Jejaring alumni adalah lapisan yang bekerja tanpa banyak diumumkan. Ketika FEB UI merayakan akreditasi AACSB pada November 2022, Ketua Umum Ikatan Alumni saat itu, Alexandra Askandar, menjabat Wakil Direktur Utama Bank Mandiri (4). Garis teknokratnya lebih panjang lagi: LPEM pernah dipimpin Widjojo Nitisastro pada 1955 sampai 1957 (2). Yang membuat jaringan ini berputar bukan nostalgia, melainkan aliran kesempatan: riset bersama, magang, dan rekrutmen yang berjalan lewat koneksi antarangkatan. Bagi mahasiswa, efeknya terasa di dua tempat sekaligus: ruang kelas yang sering kedatangan praktisi, dan peta karier yang lebih terbaca karena perusahaan besar sudah mengenal lulusan FEB sebelum mereka lulus. Tetapi jaringan juga bisa menjadi alat ukur yang menipu. Ia paling berguna bagi yang sudah berada di dalam lingkarannya, dan hampir tidak terasa bagi calon mahasiswa yang masih menimbang dari jauh.
Pintu Masuk: 2.782 Pendaftar, 114 Diterima
Keketatan di FEB UI terlihat dari angka seleksi. Pada SNBT 2025, Manajemen menerima 114 orang dari 2.782 pendaftar, keketatan 4,10 persen; Akuntansi menerima 106 dari 2.720 pendaftar, 3,90 persen; Ilmu Ekonomi 63 dari 1.147, 5,49 persen (9). Di jalur mandiri lewat SIMAK, Manajemen hanya menerima 21 orang dari 2.300 pendaftar, tingkat penerimaan 0,91 persen; Akuntansi 30 dari 1.859, atau 1,61 persen (9). Dua kesimpulan masuk akal: peminat membanjiri tiga program inti, dan jalur mandiri bukan pintu belakang yang lebih longgar. Angka-angka ini berasal dari siklus 2025, dan pola serupa cenderung berulang setiap tahun. Efek kurasi semacam ini menjelaskan mengapa kelas di FEB UI terasa homogen dalam satu hal: hampir semua orang di ruangan itu pernah lulus seleksi yang brutal. Tetapi seleksi saja tidak menjelaskan semuanya. Sebagian yang diterima masuk lewat jalur berbeda dengan tarif berbeda, dan dari situ muncul pertanyaan lama: apakah angka keketatan yang tinggi mencerminkan permintaan pasar kerja, atau efek reputasi yang berputar sendiri dan menyalakan permintaan berikutnya.
Harga Reputasi: IPI hingga Rp120 Juta
Sisi lain dari posisi puncak adalah biaya. Untuk penerimaan 2025/2026, UI memberlakukan Iuran Pengembangan Institusi bagi mahasiswa jalur mandiri, dengan tarif tertinggi Rp120 juta dan rincian berbeda per golongan UKT; mahasiswa jalur nasional hanya dikenai UKT (10). IPI dibayar sekali di semester pertama bersama UKT, lewat Keputusan Rektor UI Nomor 688/SK/R/UI/2025 (10). Kritik publik menyoroti besaran yang bagi sebagian keluarga tetap berat, dan kekhawatiran calon mahasiswa yang berpikir dua kali untuk mendaftar karena biaya (10). Protes menyebar cepat; templat penolakan diunggah ulang lebih dari 2.700 akun Instagram, dan banyak pihak menyerukan pengawalan kritis agar tidak ada calon mahasiswa gagal mendaftar ulang semata-mata karena uang (10). Perdebatan ini belum selesai, dan intinya bukan hanya besarannya: siapa seharusnya menanggung pendidikan tinggi berkualitas, keluarga atau negara. Isu IPI juga bukan perdebatan yang berdiri sendiri. Semakin tinggi standar yang dikejar sebuah fakultas, dari akreditasi sampai riset, semakin besar biaya yang harus dibayar dari suatu tempat, dan pertanyaan tentang siapa yang menanggungnya selalu kembali ke halaman depan.
Penutup
Yang membuat FEB UI sulit digeser bukan satu faktor tunggal. Ada kesinambungan yang jarang dimiliki kampus lain: fakultas ekonomi pertama, lembaga riset sejak 1953, ratusan dosen dari jalur rekrutmen berbeda, jaringan alumni yang menjangkau bank besar, dan siklus akreditasi internasional yang memaksa standar. Kombinasi itu menjelaskan mengapa peringkatnya bertahan, sekaligus mengapa label nomor satu perlu dibaca dengan kepala dingin: di manajemen, kampus swasta bermodal besar sudah menyamai rentang yang sama. Bagi siswa dan keluarga yang sedang memilih, pertanyaan yang lebih berguna bukan kampus mana yang paling bergengsi, melainkan apakah program, biaya, dan jalur karier di dalamnya cocok. Reputasi membuka pintu; kecocokan yang membuat empat tahun itu berharga. Dua hal itu tidak selalu datang dalam paket yang sama.
Sumber
- FEB UI, "Sejarah FEB UI"
- LPEM FEB UI, "Annual Report LPEM 2021"
- Direktorat SDM dan Pengembangan Talenta UI, "Statistik Dosen"
- FEB UI, "FEB UI Raih Akreditasi AACSB, Penilaian Bergengsi di Kancah Dunia"
- FEB UI, "Magister Manajemen FEB UI Resmi Reakreditasi AMBA, Perkuat Reputasi Global hingga 2030"
- UI, "UI in QS WUR by Subject"
- UGM, "UGM Advances to Global Rank 201-250 in Economics, Accounting, and Management"
- Kompas.com, "8 Bidang Ilmu Binus University Masuk Daftar 1-9 Terbaik Nasional 2026"
- SIMAK UI, "Keketatan S1 & Vokasi UI 2025"
- Suara Mahasiswa, "Sambut Camaba Jalur Mandiri, UI Putuskan IPI Hingga Rp120 Juta"
Coba Vokara
Ubah rekaman rapat menjadi transkrip dan notulen rapi dalam hitungan menit.


